Technology In The Classroom

Di bidang teknologi, kata disruptive digunakan untuk teknologi atau inovasi yang membawa perubahan radikal dalam cara suatu sektor berfungsi dengan memperkenalkan efisiensi, keterjangkauan, dan kenyamanan. Revolusi teknologi di sektor bisnis diwakili oleh penggunaan telepon pintar atau konferensi web secara ekstensif di kantor-kantor Amerika. Namun, dampak teknologi yang mengganggu pada sektor pendidikan jauh lebih tinggi. Gelombang kelas pintar dan e-learning telah mengubah cara penyampaian dan pelaksanaan pendidikan, saat ini.

Kehadiran teknologi di ruang kelas membuat siswa menjadi pembelajar yang aktif, bukan pasif. Sistem pendidikan menjadi lebih berpusat pada siswa. Siswa dapat memilih, memanipulasi dan menghasilkan apa yang dia ingin pelajari dan bagaimana caranya. Siswa itu sendiri yang menciptakan lingkungan belajar dan cara memperoleh pelajaran. E-pembelajaran telah membuat sistem pendidikan lebih nyaman dan fleksibel. Siswa dapat belajar melalui platform pilihannya sendiri. Peran guru juga berubah karena dia bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Dia berubah menjadi mentor dan bertanggung jawab untuk memberikan pedoman dan sumber daya kepada siswa.

Sistem ini meningkatkan harga diri dan tingkat motivasi seorang siswa karena ia menjadi peserta aktif dalam keseluruhan proses pembelajaran. Diketahui bahwa seorang siswa belajar lebih banyak dengan mendengar dan memvisualisasikan daripada hanya membaca. Penggunaan audio visual berbasis aktivitas di kelas menghasilkan lebih banyak minat pada pelajaran yang diajarkan. Portal e-learning menyediakan pendidikan bagi siswa yang sebelumnya tidak memiliki akses ke sana. Kursus dan metode yang berbeda diakses oleh siswa dari semua kelompok umur dengan pilihan waktu dan tempat mereka sendiri. Itu membuat seluruh sistem pendidikan lebih dinamis dan ramah peserta didik.

Salah satu tantangan yang dihadapi sistem ini adalah bahwa model pengujian standarnya tidak adaptif terhadap kecepatan dan cara belajar anak yang beragam. Beberapa siswa merespons audio visual lebih cepat sementara yang lain waktu responsnya relatif lambat. Namun, tantangan tersebut dapat diubah menjadi peluang oleh para guru. Para guru dapat menggunakan cara mengajar tradisional untuk pengajaran biasa. Metode e-classroom K-12 dapat digunakan secara bersamaan, tergantung pada kemampuan belajar siswa yang berbeda, misalnya untuk meningkatkan kinerja siswa yang lebih lemah.

Penggunaan teknologi di kelas mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan out of the box, karena menyajikan pelajaran yang monoton dengan cara yang sangat menarik dan inovatif. Proses intrik dan merangsang siswa. Pembelajaran berbasis aktivitas dan proyek dihargai dan didorong. Universitas Amerika pernah dianggap sebagai yang terbaik di dunia tetapi sekarang berjuang untuk mengejar efektivitas biaya dengan rekan-rekan global mereka sambil menyampaikan melalui sistem K-12.

Konsep kelas pintar dan elearning adalah sebuah revolusi tersendiri, menjadikan sistem pendidikan negara ini dinamis, efisien, berpusat pada siswa, dan fleksibel. Ada beberapa tantangan tertentu, yang sedang ditangani dan akan segera diatasi dengan diperkenalkannya teknologi, teknik, dan proses yang lebih baru.



Source by Jason Gaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *